SEJARAH NABI MUHAMMAD SAW

Sungguh sangat terpuji akhlaq Nabi Muhammad, bagaimana tidak, dada beliau dibelah layaknya buah, dibersihkan oleh makhluq Allah yang tidak mempunyai nafsu yaitu malaikat, dan dicuci dengan air dari surga. Beliau termasuk salah satu dari ulul ‘azmi, dimana hati Rasul ulul ‘azmi hatinya sangat dijaga, sehingga beliau dijuluki ma’shum.
Dari sekian banyaknya buku biografi Nabi Muhammad SAW, penulis menukil dari terjemahan Rakhiqul Makhtum, hampir di setiap halaman buku, selalu mengisahkan betapa terpujinya akhlaq beliau. Dimulai saat beliau kecil sampai wafat, semua perilaku beliau patut dicontoh, baik dari perbuatan, perilaku, perkataan, dan naluri sosial yang sangat mustahil dilakukan oleh orang-orang biasa.
Di sini penulis akan merespon hal yang menarik dari sekian banyak kisah nabi. Penulis memiliki ketertarikan saat kakek Nabi Muhammad memiliki dipan di depan Ka’bah, dipan tersebut sangat disegani oleh warga Arab saat itu, warga tidak berani duduk di dipan tersebut karena yang memiliki adalah Abdul Muthalib. Saat itu Nabi Muhammad telah berusia 4 tahun, dan telah terjadi peristiwa pembelahan dada. Saat pagi hari, Rasulullah SAW bermain di sekeliling Ka’bah dan dengan beraninya beliau duduk di dipan yang sangat jarang diduduki oleh warga Arab sekitar. Ketika kakek beliau keluar dan melihat cucunya sedang duduk di tempat yang terlarang, sang kakek hanya tersenyum dan menghampiri cucunya kemudian mengelus punggung badan cucunya.
Kisah di atas merupakan segelintir dari sekian banyak kisah Nabi Muhammad SAW yang bisa dikatakan aneh, karena pada saat itu Nabi Muhammad telah terjadi perisitiwa pembelahan dada. Jika ditelaah lebih lanjut, proses pembelahan dada tersebut bisa dikatakan menyucikan hati Nabi Muhammad, tetapi kenapa setelah Nabi Muhammad dicuci hatinya, tetap saja beliau melakukan kesalahan yang membuat hati orang Arab sangat iri.
Mungkin kisah di atas hanya segelintir dari kisah Nabi Muhammad yang bisa dikatakan aneh. Tetapi kita tidak bisa melihat sifat orang dari satu kesalahan saja, Nabi Muhammad tetap menjadi suri tauladan bagi umat Islam bagaimanapun kondisinya. Beliau tetap menyandang manusia yang memiliki akhlaq yang mulia atau kita bisa jadikan sebagai uswatun hasanah.

Komentar