Sejarah LGBT
Sejarah LGBT
Di Luar Indonesia
Praktik homoseksualitas dapat dilihat dari zaman Mesir kuno, sementara sikap masyarakat terhadap hubungan sesama jenis telah berubah dari waktu ke waktu dan berbeda secara geografis. Sebenarnya homoseksual adalah penyakit lama dalam kemasan modern. Penyair Homorus mencatat, bahwa gejala penyakit ini, perrnah ada 800 tahun sebelum Masehi. Hubungan seks semacam ini baru menjadi masalah pada masyarakat Barat, seteleh Agama Kristen memasuki Eropa. Agama Kristen memandang bahwa homoseksual sebagai perbuatan yang tercela, apalagi pada zaman Ratu Victoria di Inggris pada abad ke-19 yang sangat memperhatinkan dalam masalah akhlak. Setelah terbenam beberapa abad, padda tahun 1934, masalah ini muncul lagi. Pada tahun itu seorang ahli Ilmu Faal dari Hongoria bernama Dr. Benker untuk pertama kali memperkenalkan istilah homoseksual yang diambilnya dari bahasa Yunani “homois” yang berarti “sama”. Penelitian tentang hal itu telah berjalan bersamaan dengan munculnya studi tentang seksualitas yang telah dilakukan beberapa tahun sebelumnya, yaitu semenjak berdiri Institut Seksuologi Herch Field di Jerman 1919. Pada tahun 1919 institut tersebut di geledah oleh Pemerintah Nazi, dan seluruh dokumennya dihancurkan serta kegiatan ilmiah itu dibekukan. Suasana yang menekam itu cukup lama berlangsung dan muncul lagi di Amerika Serikat pada tahun 1960 sebagai pemberontakan terhadap kekangan moral, yaitu revolusi seks. Hal ini sejalan dengan dengan perkembangan pola hidup yang serba salah termasuk masalah seks. Pada tahun 1969 kaum homowan membentuk suatu organisasi dan mendapat simpati dari berbagai anggota masyarakat. Sejak itu homoseksual mendapat perhatian dan dipublikasikan melalui media informasi internasional, homoseksual ini tersebar ke seluruh dunia, termasuk Indonesia.
Istilah LGBT lahir sekitar tahun 1990-an. Sebelum masa revolusi seksual, pada tahun 1960-an tidak ada istilah khusus untuk menyatakan homoseksual. Istilah yang paling mendekati selain heteroseksual adalah third gender. Singkatan dari homoseksual adalah LGB (Lesbian, Gay, dan Biseksual). Kata gay dan lesbian berkembang secara luas menggantikan homoseksual sebagai idenitas sosial dalam masyarakat, selain itu kata ini juga disukai masyarakat karena tidak menggunakan kata seks. Kata biseksual muncul karena terdapat orang yang memiliki orientasi seksual terhadap sesama jenis atau lawan jenis. Sedangkan kata transgender muncul karena perkembangan ilmu pengetahuan dan psikologi. Sehingga istilah yang menerangkan sekelompok manusia yang memiliki orientasi seksual nonheteroseksual dikenal dengan LGBT. Pada abad ke-18 sampai 19 Masehi, praktek LGBT dilakukan dengan kriminalitas, karena dilakukan secara tidak lazim, menyakitkan dan mengenaskan. Dalam hal ini pemerintah dengan tegas menonak praktek tersebut, tetapi pelaku LGBT tetap melukakn hal tersebut secara sembunyi-sembunyi.
Dapat dianalisis bahwa perkembangan LGBT telah lama muncul dan pada saat pertama muncul, hal itu dianggap biasa karena telah menjadi tradisi dan tidak ada aturan-aturan yang melarang. Selain itu, munculnya hal itu karena terdapat perasaan kurang puas kepada orientasi seksual yang telah dilampiaskan kepada lawan jenis.
Di Dalam Indonesia
Sejarah perkembangan di Indonesia muncul sejak awal zaman Hindia Belanda, tahun 1968 muncul komunitas wadam (wanita adam) sebagai kata banci atau bencong yang dianggap bercitra negatif. Pada tahun 1980 komunitas wadam mendapatkan kritikan dari tokoh Islam di Indonesia karena kata “Adam” adalah nama dari seorang nabi dari orang Islam, atas dasar itulah nama wadam berubah menjadi waria (wanita-pria). Pada tanggal 1 Maret 1982 lahir organisasi bagi kaum LGBT yang bersekretariat di Solo yang bernama Lambda dan cabangnya menyebar di kota-kota besar di Indonesia. Selanjutnya, pada tahun 1985 di Yogyakarta berdiri komunitas Gay dengan nama Persatuan Gay Yogyakarta (PGY). Pada tahun 1988 PGY berubah nama menjadi IGS (Indonesia Gay Society). Setelah itu tanggal 1 Agustus 1987 berdiri kembali Kelompok Kerja Lesbian Dan Gaya Nusantara (KKLGBN). Awalnya organisasi ini berdiri untuk meneruskan organisasi Lambda, tetapi dengan berkembangnya waktu, KKLGBN memiliki program kerja sendiri, termasuk program kerja tersebut adalah terbitnya majalah GAYa Nusantara sampai saat ini.
Di Luar Indonesia
Praktik homoseksualitas dapat dilihat dari zaman Mesir kuno, sementara sikap masyarakat terhadap hubungan sesama jenis telah berubah dari waktu ke waktu dan berbeda secara geografis. Sebenarnya homoseksual adalah penyakit lama dalam kemasan modern. Penyair Homorus mencatat, bahwa gejala penyakit ini, perrnah ada 800 tahun sebelum Masehi. Hubungan seks semacam ini baru menjadi masalah pada masyarakat Barat, seteleh Agama Kristen memasuki Eropa. Agama Kristen memandang bahwa homoseksual sebagai perbuatan yang tercela, apalagi pada zaman Ratu Victoria di Inggris pada abad ke-19 yang sangat memperhatinkan dalam masalah akhlak. Setelah terbenam beberapa abad, padda tahun 1934, masalah ini muncul lagi. Pada tahun itu seorang ahli Ilmu Faal dari Hongoria bernama Dr. Benker untuk pertama kali memperkenalkan istilah homoseksual yang diambilnya dari bahasa Yunani “homois” yang berarti “sama”. Penelitian tentang hal itu telah berjalan bersamaan dengan munculnya studi tentang seksualitas yang telah dilakukan beberapa tahun sebelumnya, yaitu semenjak berdiri Institut Seksuologi Herch Field di Jerman 1919. Pada tahun 1919 institut tersebut di geledah oleh Pemerintah Nazi, dan seluruh dokumennya dihancurkan serta kegiatan ilmiah itu dibekukan. Suasana yang menekam itu cukup lama berlangsung dan muncul lagi di Amerika Serikat pada tahun 1960 sebagai pemberontakan terhadap kekangan moral, yaitu revolusi seks. Hal ini sejalan dengan dengan perkembangan pola hidup yang serba salah termasuk masalah seks. Pada tahun 1969 kaum homowan membentuk suatu organisasi dan mendapat simpati dari berbagai anggota masyarakat. Sejak itu homoseksual mendapat perhatian dan dipublikasikan melalui media informasi internasional, homoseksual ini tersebar ke seluruh dunia, termasuk Indonesia.
Istilah LGBT lahir sekitar tahun 1990-an. Sebelum masa revolusi seksual, pada tahun 1960-an tidak ada istilah khusus untuk menyatakan homoseksual. Istilah yang paling mendekati selain heteroseksual adalah third gender. Singkatan dari homoseksual adalah LGB (Lesbian, Gay, dan Biseksual). Kata gay dan lesbian berkembang secara luas menggantikan homoseksual sebagai idenitas sosial dalam masyarakat, selain itu kata ini juga disukai masyarakat karena tidak menggunakan kata seks. Kata biseksual muncul karena terdapat orang yang memiliki orientasi seksual terhadap sesama jenis atau lawan jenis. Sedangkan kata transgender muncul karena perkembangan ilmu pengetahuan dan psikologi. Sehingga istilah yang menerangkan sekelompok manusia yang memiliki orientasi seksual nonheteroseksual dikenal dengan LGBT. Pada abad ke-18 sampai 19 Masehi, praktek LGBT dilakukan dengan kriminalitas, karena dilakukan secara tidak lazim, menyakitkan dan mengenaskan. Dalam hal ini pemerintah dengan tegas menonak praktek tersebut, tetapi pelaku LGBT tetap melukakn hal tersebut secara sembunyi-sembunyi.
Dapat dianalisis bahwa perkembangan LGBT telah lama muncul dan pada saat pertama muncul, hal itu dianggap biasa karena telah menjadi tradisi dan tidak ada aturan-aturan yang melarang. Selain itu, munculnya hal itu karena terdapat perasaan kurang puas kepada orientasi seksual yang telah dilampiaskan kepada lawan jenis.
Di Dalam Indonesia
Sejarah perkembangan di Indonesia muncul sejak awal zaman Hindia Belanda, tahun 1968 muncul komunitas wadam (wanita adam) sebagai kata banci atau bencong yang dianggap bercitra negatif. Pada tahun 1980 komunitas wadam mendapatkan kritikan dari tokoh Islam di Indonesia karena kata “Adam” adalah nama dari seorang nabi dari orang Islam, atas dasar itulah nama wadam berubah menjadi waria (wanita-pria). Pada tanggal 1 Maret 1982 lahir organisasi bagi kaum LGBT yang bersekretariat di Solo yang bernama Lambda dan cabangnya menyebar di kota-kota besar di Indonesia. Selanjutnya, pada tahun 1985 di Yogyakarta berdiri komunitas Gay dengan nama Persatuan Gay Yogyakarta (PGY). Pada tahun 1988 PGY berubah nama menjadi IGS (Indonesia Gay Society). Setelah itu tanggal 1 Agustus 1987 berdiri kembali Kelompok Kerja Lesbian Dan Gaya Nusantara (KKLGBN). Awalnya organisasi ini berdiri untuk meneruskan organisasi Lambda, tetapi dengan berkembangnya waktu, KKLGBN memiliki program kerja sendiri, termasuk program kerja tersebut adalah terbitnya majalah GAYa Nusantara sampai saat ini.
Dengan demikian, sejarah perkembangan LGBT di dalam maupun di luar Indonesia sangatlah pesat, mereka memiliki prinsip kehidupan tidak dapat diintegrasikan dengan aturan agama (sekularisme), sehingga jika pemerintah menindak atau menolak tegas untuk membubarkan praktek mereka, mereka tidak gentar untuk menghadapinya, karena pada dasarnya mereka memiliki prinsip dan keyakinan sendiri utnuk menjalani kehidupan, bahkan mereka berani menunjukkan keeksisannya dengan membangun organisasi dan membuat majalah seperti yang diterangkan di atas.
Komentar
Posting Komentar